Sabtu, 16 Mei 2015

ILMU BUDAYA DASAR 1KA25



Peran Walisongo dalam Penyebaran Agama Islam 
di Pulau Jawa


Walisongo atau yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abab ke 14. Mereka tinggal di wilayah penting pantai utara pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gersik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak, Kudus, Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah adalah sombol penyebaran Islam di Indonesia khususnya di Jawa. Peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruh terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah  mereka secara langsung membuat para Walisongo ini menjadi terkenal di Indonesia. Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo, yaitu wali yang sembilan yang menandakan jumlah wali ada Sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata sango/songo berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lain mengatakan bahwa kata sanga berasal dari bahasa Jawa yang berarti tempat. Pendapat lain menyebutkan bahwa Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). Para Walisongo adalah pembaharuan masyarakat pada masanya, pengaruh mereka terasa dalam berbagai bentuk manifestasi peradaban masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kesenian, hingga ke pemerintahan. Berikut Sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkana, yaitu: Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Raden Makhdum Ainul Yaqin Ibrahim), Sunan Drajat (Raden Qasim), Sunan Kudus (Ja’far Shadiq), Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yakin), Sunan Kalijaga (Raden Said), Sunan Muria (Raden Umar Said), Sunan Gunung Jati (syarif Hidayatullah).

Perjuangan Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia khususnya di pulau Jawa cukup sangat berat kerena kondisi spiritual atau masyarakat di Jawa khususnya sudah terlanjur mengakar kuat dalam struktur sosial dan spiritual masyarakat, seperti abab ke 5 sudah memeluk agama Hindu akibat dari penyebaran para brahmana dan muncul kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia membuat masyarakat Jawa semakin erat memeluk agama Hindu yang tercampur dari kepercayaan nenek moyang. Awal agama Islam berkembang di tanah Jawa sebenarnya yaitu sejak Jayanegara yang menggantikan Kertajasa yang telah terjadi begitu banyak pemberontakan, tetapi ketika Majapahit sebagai kerajaan Hindu terbesar di Nusantara mulai runtuh dan para Walisongo mulai datang ke Indonesia dimulai dari abad ke 14. Salah satu cara yang dilakukan oleh Walisongo dalam menyebarkan agama Islam adalah dengan berdakwah, penyebaran agama Islam melalui dakwah ini dilakukan dengan cara para ulama mendatangi masyarakat (sebagai objek), dengan menggunakan pendekatan social budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu dengan menggunakan jenis budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam didalamnya. Disamping itu para ulama juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.

Setelah para Wali menyebarkan ajaran agama Islam di pulau Jawa, kepercayaan animisme dan dinamismes serta budaya Hindu-Budha sedikit demi sedikit berubah. Hal ini membuat masyarakt kagum akan nilai-nilai Islam yang begitu besar manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga membuat mereka langsung bisa menerima ajaran Islam. Dari sisi tersebut derajat masyarakat miskin mulai terangkat yang pada awalnya tertindas oleh para penguasa kerajaan. Proses penyebaran agama Islam yang dilakukan Walisongo berjalan dengan aman dan damai, tanpa ada kegongcangan psikologi dan sosil. Peran Walisongo dalam menyebarkan Islam di pulau Jawa sangat berkembang luas sampai ke pelosok-pelosok pedesaan, setelah para Wali berhasil mendidik murid-muridnya. Salah satu generasi yang meneruskan perjuangan para Walisongo adalah Jaka Tingkir. Yang paling menonjol setelah perjuangan Walisongo adalah perpaduan adat Jawa dengan nilai-nilai Islam, salah satu diantaranya adalah Wayang Kulit.


Nama : Ageng Syofiyanda
NPM  : 10114433
Kelas 1KA25